SELAMAT DATANG

Semoga apa yang di sajikan pada halaman ini dapat bermanfaat bagi kita semua, karena manusia yang paling baik adalah manusia yang memberi manfaat pada sesamanya

16 September 2009

PERPUSTAKAAN ISLAM

Pesatnya industri penerbitan buku di Dunia Barat benar-benar sangat mengagumkan dan pastinya juga sangat berharga. Namun pencapaian mereka terkini tidak dapat menyamai kehebatan, kompleksitasnya dan luasnya penyebaran publikasi yang pernah berkembang pada peradaban Dunia Islam sekitar abad ke delapan. Hampir seribu tahun kemudian baru akhirnya jumlah buku yang diterbitkan oleh Dunia Barat menyamai jumal buku yang Dunia Muslim pernah terbitkan sebelumnya. Industri publikasi yang demikian pesatnya kala itu masih berjalan ketika barat mulai mengakupasi tanah-tanah Orang Islam, namun secara sistematis dihancurkan oleh kekuatan kolonial, bersama-sama dengan sistem pendidikan dan kesehatan serta intitusi kebudayaan muslim lainnya. Perbedaan yang sangat antara dunia intelektual masyarakat Islam dan Kristen sangat mencolok terlihat. Perpustakaan Monstandir, Sultan penguasa Mesir, memiliki delapan puluh ribu volume buku, sementara itu perpustakaan Fathimiyyah di Kairo, sejuta volume; dan di Tripoli, dua ratus ribu volume. Ketika Bangsa Mongol menghancurkan Baghdad di Abad ke tiga belas buku-buku yang dibuang ke dalam sungai Tigris, yang lebarnya kira-kira 400 meter, sampai menutupi permukaannya dan membuat aliran sungainya menjadi hitam akibat tinta-tinta yang luntur. Sementara sisanya yang tidak terbuang ke dalam sungai ikut hancur dimakan api bersama dibakarnya gedung-gedung perpustakaan di Baghdad. Kembali ke perpustakaan peradaban Islam; Jumlah perpustakaan umum ketika Andalusia, Spanyol masih dikuasai kekhalifahan Islam adalah tujuh puluh dengan masing-masing perpustakaan memiliki koleksi buku yang sangat besar. Ibnu al Matharan dokter pribadinya Salahuddin bahkan memiliki sekitar sepuluh ribuan manuskrip, di dalam rak bukunya Dunasch Ben Tamin seorang Yahudi dan ahli bedah terkenal di Kairo terdapat dua puluh ribuan manuskrip. Masjid adalah pusat dari aktivitas intelektual dan medium penyebaran buku. Di dalam masjid, selain menjadi tempat beribadah, penulis dan orang-orang berpendidikan menularkan apa yang telah mereka pelajari kepada anak-anak muda, tidak hanya pemuda dan pelajar tapi juga ilmuwan atau pekerja profesional biasa diterima di sini, dalam aktivitas ilmiah sudah menjadi kebiasaan bahwa semua orang, apapun dia, dapat ikut serta dalam diskusi. Aktivitas intelektual yang demikian semakin mengembangkan penyebaran buku melalui masjid-masjid. Ketika seorang penulis berkeinginan untuk menerbitikan karyanya, pertama-tama dia akan menulis catatan-catatan, dan kemudian menulis manuskrip asli (asl) yang pada awalnya disebut "draft" (muswadda). Walaupun bentuk muswadda sudah memiliki isi yang cukup mendalam namun kenyataanya belum bisa diterbitkan. Dalam kosa kata Arab, untuk menerbitkan, kata yang dipakai adalah kharajja berarti "melepaskan" (let (it) go out) atau "keluar" (Come out) atau "diterbitkan" (be published). Karena belum bisa diterbitkan, seorang penulis perlu untuk mempresentasikan karyanya kepada publik lebih dahulu, yang dilakukan di masjid dengan cara membacanya atau mendiktekannya.

KLIK Untuk melanjutkan

Anda sedang membaca artikel tentang PERPUSTAKAAN ISLAM dan anda bisa menemukan artikel PERPUSTAKAAN ISLAM ini dengan url https://sundapeople.blogspot.com/2009/09/perpustakaan-islam_16.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel PERPUSTAKAAN ISLAM ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link PERPUSTAKAAN ISLAM sumbernya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kritik dan Saran